Minggu, 24 April 2011

REKONSTRUKSI BANI UMAYAH

Nama : Munifah Ahmad
NIM : 08410013
Kelas : PAI D
REKONSTRUKSI BANI UMAYYAH
A. Data Sejarah
Pada masa Bani Umayyah, pendidikan sangat diperhatikan. Sarana prasarana pendidikan dibangun untuk menunjang setiap aktivitas pendidikan. Hal ini dapat kita lihat dari banyaknya madrasah yang dibangun dan guru-guru yang berkompeten didalamnya, antara lain :
a. Madrasah Mekkah: Guru pertama yang mengajar di Makkah, sesudah penduduk Mekkah takluk, ialah Mu’az bin Jabal.
b. Madrasah Madinah: Madrasah Madinah lebih termasyur dan lebih dalam ilmunya, karena di sanalah tempat tinggal sahabat-sahabat nabi. Berarti disana banyak terdapat ulama-ulama terkemuka.
c. Madrasah Basrah: Ulama sahabat yang termasyur di Basrah ialah Abu Musa Al-asy’ari dan Anas bin Malik.
d. Madrasah Kufah: Madrasah Ibnu Mas’ud di Kufah melahirkan enam orang ulama besar, yaitu: ‘Alqamah, Al-Aswad, Masroq, ‘Ubaidah, Al-Haris bin Qais dan ‘Amr bin Syurahbil.
e. Madrasah Damsyik (Syam): Setelah negeri Syam (Syria) menjadi sebagian negara Islam dan penduduknya banyak memeluk agama Islam. Maka negeri Syam menjadi perhatian para Khilafah. Madrasah itu melahirkan imam penduduk Syam, yaitu Abdurrahman Al-Auza’iy yang sederajat ilmunya dengan Imam Malik dan Abu-Hanafiah.
f. Madrasah Fistat (Mesir): Setelah Mesir menjadi negara Islam ia menjadi pusat ilmu-ilmu agama. Ulama yang mula-mula madrasah madrasah di Mesir ialah Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘As, yaitu di Fisfat (Mesir lama).
Ada beberapa faktor yang menyebabkan dinasti Bani Umayyah lemah dan membawanya kepada kehancuran. Faktor-faktor itu antara lain adalah:
1. Sistem pergantian khalifah melalui garis keturunan adalah sesuatu yang baru bagi tradisi Arab yang lebih menekankan aspek senioritas. Pengaturannya tidak jelas. Ketidakjelasan sistem pergantian khalifah ini menyebabkan terjadinya persaingan yang tidak sehat di kalangan anggota keluarga istana.
2. Latar belakang terbentuknya dinasti Bani Umayyah tidak bisa dipisahkan dari konflik-konflik politik yang terjadi di masa Ali. Sisa-sisa Syi'ah (para pengikut Ali) dan Khawarij terus menjadi gerakan oposisi, baik secara terbuka seperti di masa awal dan akhir maupun secara tersembunyi seperti di masa pertengahan kekuasaan Bani Umayyah. Penumpasan terhadap gerakan-gerakan ini banyak menyedot kekuatan pemerintah.
3. Pada masa kekuasaan Bani Umayyah, pertentangan etnis antara suku Arabia Utara (Bani Qays) dan Arabia Selatan (Bani Kalb) yang sudah ada sejak zaman sebelum Islam, makin meruncing. Perselisihan ini mengakibatkan para penguasa Bani Umayyah mendapat kesulitan untuk menggalang persatuan dan kesatuan. Disamping itu, sebagian besar golongan mawali (non Arab), terutama di Irak dan wilayah bagian timur lainnya, merasa tidak puas karena status mawali itu menggambarkan suatu inferioritas, ditambah dengan keangkuhan bangsa Arab yang diperlihatkan pada masa Bani Umayyah.
4. Lemahnya pemerintahan daulat Bani Umayyah juga disebabkan oleh sikap hidup mewah di lingkungan istana sehingga anak-anak khalifah tidak sanggup memikul beban berat kenegaraan tatkala mereka mewarisi kekuasaan. Disamping itu, golongan agama banyak yang kecewa karena perhatian penguasa terhadap perkembangan agama sangat kurang.
5. Penyebab langsung tergulingnya kekuasaan dinasti Bani Umayyah adalah munculnya kekuatan baru yang dipelopori oleh keturunan al-Abbas ibn Abd al-Muthalib. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari Bani Hasyim dan golongan Syi'ah, dan kaum mawali yang merasa dikelas duakan oleh pemerintahan Bani Umayyah.
B. Rekonstruksi
Menilik pendidikan di Indonesia, maka dapat kita simpulkan bahwa sistem pendidikan di negara kita belum sepenuhnya berjalan dengan baik. Oleh karena itu dari data sejarah Bani Umayyah diatas, rekonstruksi yang dapat ditawarkan adalah:
1. Mengoptimalkan sarana dan prasarana pendidikan.
Di Indonesia sarana prasarana pendidikan belum sepenuhnya terpenuhi. Banyak gedung-gedung sekolahan baik di kota maupun didesa yang mengalami kerusakan dan konstruksinya tidak laik pakai. Oleh karena itu pemerintah haruslah memperhatikan perkembangan pendidikan. Karena tanpa uluran tangan dari pemerintah, pendidikan akan semakin tergerus dan tidak siap untuk menghadapi arus globalisasi.
2. Tidak hanya mementingkan pembangunan-pembangunan yang bersifat hanya untuk “memperindah diri” saja. Rencana pembangunan gedung DPR misalnya, hanya membuang waktu dan biaya saja. Karena dari segi fungsional dan kelaikannya gedung DPR masih dalam keadaan prima.
3. Mempertahankan sistem pemerintahan negara agar dapat meminimalisir dan memadamkan pergolakan yang muncul di tengah-tengah masyarakat. Pemerintah harus mempertahankan semboyan negara Indonesia, Bhineka Tunggal Ika. Walau berberda tapi tetap satu jua. Sehingga segala bentuk anarkisme dan penyelewengan yang dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dapat diatasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar